Cerpen Tari Sintren

Purnama bersinar menerangi desa malam ini. Lapangan desa Sijeruk yang ditumbuhi rumput liar mulai dipadati masyarakat sekitar. Mereka bersiap-siap untuk menonton kesenian yang telah sekian lama menghilang.
“Ayo lah Du kenapa kau lama sekali?” Desi mulai gelisah melirik kearah lapangan yang sudah dipadati masyarakat.
 “Iya sebentar..! aku tengah bersiap..” Teriak Syahdu dari arah tenda persiapan pentas.
Mbah Parji mulai membakar dupa. Bau kemenyan yang menyengat mulai tercium. Mulut mbah Parji mulai comat camit membacakan mantra. Iringan gending mulai terdengar.
 Setelah bertahun-tahun desa ini baru kembali menggelar kesenian sintren. Sintren adalah kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Cirebon. Kesenian ini terkenal dipesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kisah Sulasih dengan Sulondo.
Dahulu penari sintren didesa ini adalah mbak Lastri. Ia adalah gadis yang paling ayu didesa ini. Tarian sintrenya pun sungguh menarik hati masyarakat. Ia selalu di minta menari diacara-acara penting, dari acara kelurahan hingga ke kabupaten. Bakatnya dibidang menari memang sudah tidak diragukan lagi.
Namun, semua telah hilang. Sudah bertahun-tahun mbak Lastri hilang tanpa jejak yang ia tinggalkan. Mbak Lastri di kabarkan menghilang setelah ia pentas di desa sebelah. Setelah selesai pentas mbak Lastri menghilang dan sampai sekarang tidak ada kabar apapun tentang mbak Lastri.
Syarat untuk menjadi seorang penari adalah gadis yang masih suci atau perawan. Selain itu, seorang penari sintrren diwajibkan berpuasa terlebih dahulu agar tubuh sang penari suci dan dapat dimasuki roh dengan mudah. Syarat untuk menjadi seorang sintren telah terpenuhi dari Syahdu. Ia  adalah gadis suci yang belum tersentuh oleh satu lelakipun. Selain itu, Syahdu adalah gadis yang begitu cantik. Ia juga berbakat dalam menari.
Syahdu mulai melangkahkan kakinya menuju lapangan yang sudah dipadati masyarakat. Tepuk tangan dan Teriakan suka cita terdengar begitu keras. Seluruh desa malam ini terdengar begitu bahagia. Maklum saja, setelah kepergian mbak Lastri tidak pernah ada lagi hiburan didesa.
“Ayo... mulai menarilah..!!” teriak salah seorang warga yang sudah tidak sabar lagi melihat pertunjukan tari Sintren.  
Pertunjukan pun akan segera dimulai. Para dayang mulai menari. Setelah itu, mbah Prji mulai membaca mantra. Kedua tangan Syahdu diletakan diatas asap kemenyan. Setelah itu, penari diikat dengan tali pada seluruh tubuhnya. Kemudian Syahdu dimasukan dalam sangkar ayam bersama dengan busana dan perlengkapan riasnya. Para dayang menari mengitari sangkar ayam tersebut.
Sangkar ayampun mulai bergetar. Tanda jika sangkar mulai dapat dibuka. Syahdu muali keluar dari sangkar. Penampilanya sudah berbeda Syahdu menggunakan busana tanpa lengan yang biasa digunakan untuk menari ia juga menggunakan jarit dan celana cinde. Untuk hiasan kepala Syahdu menggunakan hiasan untaian bunga melati. Ciri khas dari penari sintren adalah kaca mata hitam yang berfungsi sebagai penutup mata. Syahdu mulai berlenggak lenggok menari diantara para masyarakat yang sudah hadir.
Saat menari Syahdu telah dimasuki ruh halus, sehingga ia menari tak sadar diri. Para penonton pun mulai memberikan saweran kepada Syahdu. Saat dilempar uang tubuh Syahdu akan terjatuh. Begitu seterusnya.
Pertunjukan pun telah usai, Syahdu mendapatkan banyak pujian dari para penonton. Tak terkecuali mbah Parji yang bangga dengan bakat yang dimiliki oleh Syahdu.
“Kamu gadis yang hebat nduk, teruslah berlatih agar kau semakin hebat dan bisa menggantikan Lastri” Puji mbah Parji kepada Syahdu.
Menggantikan mbak Lasti keinginan terbesar dalam diri Syahdu. Ia ingin seperti mbak Lastri menjadi seorang penari sintren yang terkenal.
 “Bisakah aku menggantikan mbak Lastri?” Tanya Syahdu kepada ibunya.
 “Kalo kamu bersungguh-sungguh pasti kamu bisa menjadi penari yang hebat seperti mbak Lastri Nduk..” jawab ibu sembari mengelus-elus rambut Syahdu yang membaringkan tubuhnya dipangkuan sang ibu.
Terlebih menjadi suatu kebanggaan tersendiri didesa Sijeruk jika anak laki-lakinya menikahi seorang penari sintren.
“Nduk..! ini tak bawain Lulur Bengkoang..” Suara bu Sri terdengar dari luar rumah.
Bu Sri adalah tetangga sebelah. Ia begitu baik kepada Syahdu. Mungkin karena bu Sri sudah mengincar Syahdu untuk dijadikan mantu. Bu Sri memiliki anak laki-laki seumuran Syadu, Bagus namanya. Bagus dan Syahdu sudah bersahabat sejak kecil. Kini umur mereka yang telah memasuki lima belas tahun sudah siap untuk dijodohkan.
Bu Sri mulai melumuri tubuh Syahdu dengan lulur bengkoang yang telah diraciknya sendiri. Sentuhanya begitu lembut. Bu Sri menyayangi Syahdu seperti anaknya sendiri.
“Kulitmu harus selalu terlihat cerah nduk” Kata bu Sri yang masih melumuri tubuh Syahdu dengan lulur bengkoang.
“Terimakasih lho bu sudah repot-repot menyiapkan lulur bengkoang untuk Syahdu” Ucap ibu Syahdu.
“Halah, nggak masalah Bu, Syahdu ini sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Sebentar lagi kan Syahdu akan menjadi menantu saya” Syahdu tersenyum kecil mendengar ucapan bu Sri.
***

Pementasan kedua Syahdu akan segera dimulai. Syahdu mulai beraksi melenggak lenggok didepan penonton yang semakin ramai memenuhi lapangan Sijeruk. Malam ini lebih rame dari malam yang kemarin. Malam ini Syahdu mendapatkan banyak Saweran. Mbah Parji semakin bangga dengan anak didiknya itu. Setelah selesai pementasan, Syahdu mendekati mbah Parji.
 “Kemari nduk” mbah Parji memanggil Syahdu. Syahdu mendekat, kemudian duduk disamping mbah Parji yang tengah membereskan peralatan pementasan tari.
Mbah Parji mengeluarkan selendang berwarna merah dengan hiasan emas dikedua ujung nya.
“Pakailah selendang ini nduk” Mbah Parji menyerahkan selendang merah itu kepada Syahdu.
“Selendang siapa ini mbah?”
“Lastri..”
“Mbak Lastri...!??” Syahdu kaget mendengar nama mbak Lastri.
“Setelah pementasan terakhir itu Lastri menitipkan selendang ini kepada mbah, mbah nggak punya firasat apapun saat itu. Padahal, selendang ini adalah selendang kesayangan mbak Lastri dan tidak ada seorangpun yang boleh memegangnya”
“Apa yang mbak Lastri katakan saat menitipkan selendang ini mbah?”
“Lastri tidak mengatakan apapun, ia hanya meminta mbah untuk menjaga selendang ini dengan baik”
“Lalu kenapa mbah memberikan ini kepada ku?”
“Mbah merasa kalo Lastri menitipkan selendang ini agar bisa digunakan penari yang akan menggantikanya”
“Mbah yakin??” Tanya Syahdu memastikan
“Sudah beberapa hari mbah memikirkan nya nduk, dan mbah yakin jika mbah harus memberikan selendang ini kepadamu”
“Tapi mbah....”
“Sudahlah nduk, sudah larut malam pulanglah dan bawa selendang ini, mbah titipkan selendang ini untukmu. Pakailah saat kau akan menari” Ucap mbah Parji mengakhiri pembicaraan malam itu.
Syahdu mulai melangkahkan kakinya menuju rumah. Syahdu membawa selendang milik mbak Lastri dengan perasaan senang, bingung, dan juga takut. Syahdu senang itu artinya ia akan menjadi penerus mbak Lastri. Syahdu bingung kenapa mbah Parji memberikan selendang tersebut kepadanya. Dan Syahdu takut jika mbak Lastri tidak suka selendang kesayangannya ia kenakan. “Ah tapi mbak Lastri kan nggak tau dimana” Katanya menenangkan diri.
Malam sudah semakin larut, mata syahdu belum juga dapat terpejam. Ia masih saja memandangi selendang mbak Lastri. Sungguh indah memang selendang ini. Tapi dimana mbk Lastri sebenarnya, apa yang sebenarnya telah terjadi dengan mbak Lastri? Tanda tanya besar kembali menghampiri benak Syahdu.
***

Kemenyan sudah mulai dibakar. Mbah Parji mulai mengelilingi mantra dengan asap kemenyan tersebut. Syahdu mulai bersiap untuk menari. Syahdu malam ini terlihat lain, ia mengenakan selendang merah milik mbak Lastri yang telah diberikan oleh mbah Parji. Aura kecantikan Syahdu begitu terpancar. Semua laki-laki melongo melihat pancaran aura kecantika Syahdu.
 “Cantik betul gadis itu malam ini” ucap salah satu penonton.
Setelah memakai selendang mbak Lastri, Syahdu tampak berbeda. Auranya semakin terpancar. Ia semakin mahir dalam menarikan tari Sintren. Semua orang semakin jatuh hati pada gadis ini.
Gending telah dimainkan, Syahdu mulai memasuki sangkar ayam. Nyanyian sinden dilantunkan. Para dayang menari-nari mengitari sangkar ayam itu. Sangkar ayam bergetar begitu cepat. Semua mata memandang lekat. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Tidak biasanya seperti ini? Semua penonton bertanya-tanya.
Syahdu keluar dari sangkar ayam itu, wajahnya sudah berbeda dari sebelum ia dimasukan kedalam sangkar ayam. Wajahnya kini terlihat semakin menawan dengan riasan di wajahnya. Kali ini Syahdu benar-benar terlihat berbeda. Tarian dan wajah Syahdu semakin mempesona semenjak ia memakai selendang mbak Lastri.
Tiba-tiba Syahdu terjatuh tak sadarkan diri. Semua orang spontan langsung menggerubungi Syahdu. Mbah Parji berusaha membangunkanya, tapi Syahdu tak juga bangun.
Setelah beberapa menit mata Syahdu terbuka lebar. Matanya melotot memandangi semua orang yang mengelilinginya.Syahdu berdiri tegak diantara kerumunan penonton. Syahdu menari berlenggak-lenggok dengan begitu apiknya. Mbah Parji meminta gendang ditabuh dan sinden bernyanyi kembali. Suasana malam semakin mencekam tapi Syahdu masih saja terus menari.
Malam semakin larut, para penonton satu persatu kembali kerumah masing-masing. Syahdu masih saja menari, walau tanpa gending dan sinden yang mengiringi. Mbah Parji khawatir atas apa yang terjadi dengan gadis itu.
“Hentikan Syahdu!!” Mbah Parji mulai memperingati Syahdu.
 Tapi Syahdu tak menghiraukan ya malah ia semakin asyik menari. Kemudian mbah Parji mulai mengambil tindakan. Diambilnya sebuah air telaga dekat lapangan. Mulutnya komat-kamit membacakan mantra. Disemburlah Syahdu dengan air telaga yang telah diberi mantra.
Gubraaak! Syahdu terjatuh tak sadarkan diri. Mbah Parji kembali membangunkan Syahdu. Syahdu tersadar dengan wajah yang terlihat begitu lelah.
“Syahdu..” Panggil mbah Parji pelan.
“Mbah...” Syahdu balik memanggil mbah Parji dengan suara seperti tengah kesakitan.
“Kau baik-baik saja nduk?” Mbah Parji membantu Syahdu untuk bangun
“Badanku terasa begitu sakit mbah, aku merasa ada yang mengendalikan diriku. Sungguh aku tidak kuat menolaknya mbah” Keluh Syahdu
“Selendang Lastri!” Seru mbah Parji
“Maksudnya?”
“Selendang Lastri memang memberikan aura positif pada tubuhmu, tapi suatu saat juga akan membunuhmu. Selendang ini berbahaya.”
Syahdu cukup  ketakutan mendengar ucapan mbah Parji, dengan tubuh yang masih terasa lemas Syahdu berusaha melepaskan selendang tersebut ditubuhnya.
Setelah kejadian malam itu, mbah Parji menyimpan kembali selendang mbak Lastri ditempat yang tak seorangpun yang tau. Mbak Lastri adalah penari sintren yang tak akan pernah dilupakan. Apapun yang terjadi pada mbk Lastri kami semua selalu mendo'akan yang terbaik untuknya.


Comments

Popular posts from this blog

Diet Sehat

Kulit Putih dengan Kulit Jeruk

Santri Zaman Doeloe dan Zaman Sekarang